Tampilkan postingan dengan label Cerita Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kopi. Tampilkan semua postingan

Zenius, Membuat Kopi Terus Mengalir

Selasa, 22 Januari 2013

RUMAHKOPI MATITI, BATAM - Di era serba canggih ini, kita hampir bisa memesan dan memiliki segalanya dengan praktis. Internet, ponsel, dan gadget lainnya pun membuat hidup kita semakin nyaman, mudah, dan nyaman. Bahkan kali ini ada alat pembuat kopi otomatis yang bisa memproduksi kapan pun ketika memerlukannya.

Alat pembuat kopi otomatis ini bernama Zenius yang diproduksi oleh perusahaan Nespresso yang mampu membuat kopi bisa terus mengalir. Dengan menggunakan kartu SIM yang terhubung pada sistem Nespresso, kita bisa mendapatkan isi ulang kopi secara otomatis.

Metode Nespresso adalah menawarkan secangkir kopi sempurna kapan saja dan di mana saja. Alat pembuat kopi tersebut pun dinilai cukup hemat energi dengan kisaran daya 1560-1860 watt beserta kapasitas tangki air sebanyak 2,3 liter dan pompa tekanan yang lumayan tinggi (16-19 bar).

Sebenarnya alat pembuat kopi ini lebih dipasarkan kepada perusahaan besar. Namun menggunakan alat pembuat kopi otomatis ini di rumah juga tidak dilarang, demikian seperti yang dilansir dari gizmowatch.com (19/07).

Harga untuk Zenius, mesin pembuat kopi otomatis yang jenius ini adalah GBP 299 (sekitar Rp 4,5 juta). Apakah Anda tertarik untuk memilikinya?

Sekarang Saatnya Memiliki Coffee House Sendiri

RUMAHKOPI MATITI, MANILA - Ya, judul di atas bukan hal yang berlebihan, apalagi mustahil. Sekarang, Anda bisa punya Coffee house pribadi di rumah Anda dengan mudah & murah, tanpa peralatan mahal, tanpa skill khusus. Anda bahkan tidak perlu memiliki espresso maker. Cukup peralatan dapur biasa, classic drip, beberapa tips, dan disertai resep special. Namun sebelum kita bicara lebih jauh, saya perlu memberi tahu Anda betapa enaknya punya coffee house pribadi di rumah.

Seperti halnya Anda, dan pecinta kopi lain, saya dulu sering memimpikan betapa enaknya jika saya bisa menikmati sajian kopi berkelas (seperti di coffee house terkenal), setiap hari, sambil bersantai di rumah, tanpa perlu jauh-jauh pergi ke sana. Apalagi jika bisa menikmatinya waktu pagi hari sambil baca koran atau sore hari waktu pulang kerja. Wah betapa nikmatnya hari hari saya. Hal ini sama sekali bukan impian lagi. Kami sekeluarga bisa menikmatinya dengan mudah.

Tidak banyak hal yang perlu Anda persiapkan. Sepertinya sebagian besar sudah ada di rumah Anda. Anda hanya memerlukan:
  • Dapur dan peralatan standar (seperti gelas, cangkir, sendok, dll)
  • Blender (tidak selalu dipakai)
  • Lemari es (jika Anda ingin membuat sajian kopi dingin)
  • Alat pembuat espresso sederhana (classic drip)

Selain itu, Anda juga harus menyiapkan bahan untuk membuat sajian kopi kesukaan Anda. Anda tidak harus menyediakan bahan lengkap seperti coffee house komersial. Yang harus Anda sediakan adalah bahan yang memang diperlukan untuk membuat sajian kopi kesukaan Anda.

Untuk awalnya, Anda cukup memilih beberapa menu favorit yang ingin Anda nikmati bersama keluarga tiap hari. Lalu miliki bahan bahannya di rumah Anda. Tidak perlu terlalu banyak menu dulu. Nanti pelan-pelan, bisa berkembang seiring dengan semakin mahirnya Anda dalam membuat sajian kopi bintang lima.

Kita bisa mencari beberapa sumber misalnya dari Ebook “16 Top Secrets Coffee Recipe”, yang bisa Anda dapatkan gratis. Jika Anda belum mendapatkannya, Anda bisa isikan nama dan email Anda di form pada halaman yang menyediakan e-book tersebut. Resepnya akan menghasilkan cita rasa yang nikmat sekali. Silahkan dicoba.

Bagaimana cara menggunakan alat-alat sederhana tadi, tips-tips rahasia, resep rahasia, step by step guidenya bisa Anda peroleh dari mana saja. Saya tidak bisa membahasnya secara detail di sini mengingat keterbatasan ruang dan waktu. Anda bisa mendapatkannya secara detail dalam teman atau pakar kopi. Dengan menyulap dapur Anda menjadi coffee house pribadi tentu saja yang akan membuat hidup Anda lebih berwarna.

Dengan biaya yang sangat murah, mudah dan praktis, Anda siap untuk menyajikan minuman kopi berkelas seperti layaknya coffee house ternama.

Selamat mencoba.

3 KARAKTER PENENTU KUALITAS BIJI KOPI

RUMAHKOPI MATITI, SINGAPORE - Kualitas biji kopi merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan rasa sajian kopi yang dihasilkan. Tahukah anda bahwa ada tiga karakter yang terdapat dalam biji kopi dan menjadi penentu kualitasnya? Jika anda mengaku sebagai penggemar kopi, maka informasi berikut sangat berharga bagi anda.

# Karakter pertama : Keasaman

Jika anda penikmat kopi, maka keasaman atau asiditas adalah karakter yang berhubungan dengan kecerahan kopi dan memberikan sensasi rasa yang lebih ’hidup’ di bagian tepi lidah anda. Karena itu, biji kopi yang baik memiliki keasaman namun dengan tingkatan yang rendah. Keasaman yang terlalu tinggi menyebabkan sajian kopi yang dihasilkan terlalu asam dan hal ini menyebabkan sajian kopi yang dihasilkan tidak lagi terasa nikmat.

Tingkat keasaman kopi ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah tempat tumbuh tanaman kopi dan pengolahan kopi. Kopi yang ditumbuhkan di dataran tinggi yang kaya akan mineral gunung berapi akan memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Terkait dengan pengolahan biji kopi, kopi yang diolah secara basah memiliki tingkat keasaman lebih tinggi secara signifikan daripada yang diolah secara kering. Selain itu, tingkat keasaman kopi juga tergantung pada tingginya suhu pemanggangan, jenis pemanggang, dan metode pemasakan.

#Karakter kedua : Aroma

Saat anda menikmati kopi, maka anda akan menyadari bahwa aroma kopi merupakan karakter yang terpenting untuk spesifisitas kopi. Setiap jenis kopi memiliki memiliki atribut yang dapat menstimulasi indera penciuman, tak terkecuali kopi instan. Akan tetapi kopi instan sudah tidak lagi memiliki senyawa volatil yang menyebabkan penurunan dramatis sensasi rasa keseluruhan.

Aroma kopi yang diterima oleh indera kita terjadi melalui dua mekanisme, yaitu langsung dipersepsi oleh hidung ketika kita mencium aromanya sebelum kita meminum kopi dan secara retronasal. Mekanisme kedua terjadi bila kopi telah berada di mulut atau telah ditelan dan senyawa volatil yang terdapat pada kopi menguap ke atas memasuki saluran nasal.

Tahukah anda bahwa jumlah senyawa volatil yang ditemukan di kopi semakin meningkat setiap tahun? Jika saat ini jumlah senyawa volatil pada kopi menembus angka 800, bukan tidak mungkin jika di tahun-tahun mendatang jumlah ini akan meningkat terus. Wow, bagaimana bisa? Ya, hal ini seiring dengan bertambahnya waktu, maka metode analisis senyawa volatil semakin akurat dan sensitif. Oleh karena itu, dengan metode yang dikembangkan saat ini, ada kemungkinan masih ada senyawa yang belum teridentifikasi dan mungkin sudah menguap pada saat diekstrak.

#Karakter ketiga : Body

Karakter ketiga penentu kualitas kopi adalah apa yang disebut sebagai body kopi. Body merupakan ”rasa mantab” pada kopi yang dapat anda rasakan dengan membiarkan kopi tetap berada di lidah dan menggosokkannya dengan langit-langit mulut. Body berkisar dari yang ringan hingga berat dan dipengaruhi pemanggangan kopi. Kopi yang dipanggang secara medium dan pekat akan memiliki body yang lebih berat dibanding dengan kopi yang dipanggang ringan.

Menggoreng Kopi saja Seni

Jumat, 04 Januari 2013

RUMAHKOPI TEMANGGUNG, JAKARTA - Mungkin banyak yang tidak tahu kalau biji kopi aslinya berwarna hijau. Kalau kita sering melihat biji tanaman Coffea Arabica warnanya agak-agak hitam, sesungguhnya ia sudah menjalani ritual panjang berupa disangrai atau “digoreng”. Nah, tugas itu diserahkan pada mereka, para seniman penggoreng kopi.

Istilah menyangrai (roast) memang lebih tepat digunakan untuk menyebut proses pematangan biji kopi. Tetapi di Indonesia kata menggoreng justru lebih populer. Meski anehnya, alat yang digunakan untuk “menggoreng” kopi tetap disebut roaster (panggangan).

Sejak zaman baheula, ada tiga kriteria kematangan biji kopi. Yang pertama adalah warna. Biji kopi akan berubah warna. Warna yang diinginkan biasanya adalah coklat tua. Kriteria kedua adalah aroma. Harum kopi dan asap akibat proses penggorengan akan menggoda hidung. Terakhir ialah suara. Biji kopi yang sudah matang akan mengeluarkan suara gemeretak, krak-krak...

Para penggoreng kopi yang sudah mumpuni mampu memunculkan potensi rasa dari tiap varian biji kopi. Biji kopi memang memiliki varian rasa berbeda-beda. Ada yang memiliki rasa buah-buahan, jeruk, karamel, cokelat, atau kacang. Nah, teknik menggoreng yang baik akan memunculkan potensi-potensi rasa tersebut. Hal itu tak bisa dilakukan oleh sembarang orang, hanya mereka, para seniman penggoreng kopi yang mampu melakukannya.

Tradisional dan modern

Sejarah mencatat, biji kopi masuk ke Indonesia sejak abad ke-17. Dalangnya, tak lain dan tak bukan, ialah para meneer Belanda. Mereka membawa biji kopi dari Yaman dan menanamnya di beberapa lokasi Nusantara, seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Meski tidak ada catatan yang pasti, bolehlah kita berasumsi bahwa cara dan alat menggoreng kopi juga ikut masuk pada saat yang sama. Teknik tradisional itu bahkan masih bisa kita lihat sampai hari ini. Di Temanggung, kita masih bisa menyaksikan para wanita menggoreng kopi dengan wajan dan tungku seperti bangsa Turki di abad ke-16.

Tapi tidak hanya wajan metal yang masih bertahan, pabrik kopi dengan mesin tradisional juga masih ada yang bertahan. Paberik Kopi Aroma di Jln. Banceuy Nomor 51 Bandung yang berdiri sejak 1930 misalnya, belum mau menutup usia. Pak Widya, begitu Widya Pratama, sang pemilik kerap disapa, tetap setia dengan tradisi sebagaimana aslinya. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi usaha ini dari ayahnya, Tan Houw Sian.

Pria sederhana yang gemar berpakaian safari cokelat itu memulai aktivitas menggoreng dari pukul 05.00 sampai 12.00. Tidak lebih dari 200 kg setiap hari, agar kopi yang dijual tepat habis dalam sehari. “Biar para pembeli mendapatkan kopi yang fresh,” tutur pria yang masih segar bugar di usianya ke-61 itu.

Dalam menggoreng, Pak Widya mengandalkan roaster keluaran Probat, Jerman. Mesin buatan 1930 itu masih tampak berdiri tegap di tengah pabrik ukuran 8 x 12 m itu. Bentuk roaster-nya unik, seperti helm ksatria Eropa zaman dulu. Pada bagian bawah, terdapat tungku api dengan kayu pohon karet sebagai bahan bakar. Pada bagian tengah tabung-tabung berisi bola metal yang menjadi wadah penggoreng. Bagian tengah ini tersambung dengan cerobong asap yang menjulang tinggi menembus atap pabrik.

Bagi Pak Widya, seni menggoreng kopi bukan cuma soal mengetahui tingkat kematangan, tapi juga termasuk memilih biji kopi. Ia sendiri hanya menggoreng biji kopi tua, yang telah disimpan di gudang selama delapan tahun untuk arabica, dan lima tahun untuk robusta. Selama penyimpanan, biji kopi juga harus dijemur teratur untuk mengurangi kadar keasamannya.

Proses penggorengan memakan waktu sekitar dua jam dengan suhu tetap yaitu 125°C. Tiga inderanya aktif merasakan: mata untuk melihat warna biji kopi, telinga untuk mendengar gemeretak biji kopi, dan hidung untuk mencium aroma biji kopi kalau sudah matang.

Setelah matang, biji kopi tersebut didinginkan dan dipilah memakai mesin pemilah bermerek Probat yang juga sudah 80 tahun usianya. Wah, para tua-tua keladi rupanya.

Puas jika pelanggan kembali

Di benak Pak Widya, menggoreng secara tradisional bukan sebatas warisan. Ini merupakan seni, sehingga memunculkan kepuasan tersendiri. Maka ia begitu meyakini testimoni dari sejumlah pelanggan tentang kesembuhan mereka dari diabetes atau gangguan tekanan darah setelah meminum kopi hasil gorengannya.

Karena kopi produksinya tidak terasa asam, perut para konsumen juga aman dari kembung. Proses penggorengan pun tak mengganggu keseimbangan alam. “Bahan bakar yang saya pakai 'kan limbah kayu pohon karet. Enggak ada yang mau kayu-kayu ini, karena sudah enggak bisa dipakai. Daripada jadi limbah lebih baik saya pakai,” tuturnya.

Lain Pak Widya, lain pula Anton Sumarjo. Pria 35 tahun yang berprofesi sebagai roaster (penggoreng) di Blumchen Coffee, di Jln. Fatmawati no. 1 Jakarta Selatan itu menggunakan peralatan yang lebih modern.

Namun, Anton mengaku setuju akan pernyataan bahwa menggoreng kopi adalah sebuah seni. Kegiatan ini, menurutnya, memerlukan penghayatan khusus saat menggoreng kopi.

Pria asal Purwokerto yang sudah tiga tahun berprofesi sebagai roaster ini menggoreng kopi dua kali seminggu. “Itu juga tergantung pada permintaan kafe, agar biji kopi tak terbuang sia-sia,” ujarnya.

Pada proses penggorengan biji kopi modern, biji kopi dimasukkan ke dalam corong yang katupnya masih tertutup pelat metal. Kemudian mesin dan alat pembakar (burner) dinyalakan untuk memanaskan drum di dalam mesin hingga mencapai suhu 210°C, baru kemudian biji kopi dimasukkan ke dalamnya. Biasanya dalam 15-20 menit, biji akan matang. Tapi Anto mengaku tidak mengandalkan patokan waktu dan suhu, melainkan juga feeling-nya.

Begitu matang, pintu penutup drum dibuka, dan biji-biji kopi yang sudah beraroma wangi dikeluarkan. Proses pendinginan dilakukan di wadah sambil diaduk selama sekitar 5-10 menit. Setelah dingin, biji kopi siap digiling sesuai kebutuhan.

Menggoreng kopi itu menyenangkan. Kita bisa bereksperimen agar bisa mendapatkan profil rasa yang cocok. "Ini memerlukan feeling yang kuat,” tutur Anto. Inilah mengapa ia bisa menolak menggoreng ketika mood-nya sedang buruk. Jerih payahnya itu akan terbayar ketika melihat pelanggannya datang kembali dan mencicipi kopi hasil gorengannya. “Rasanya puas sekali kalau melihat pelanggan datang kembali untuk mencicipi kopi gorengan saya.”

Para penggoreng kopi dan roaster-nya ibarat pelukis dengan kuas kanvasnya. Dengan sentuhan mereka biji kopi bisa jadi kaya rasa dan hidup terasa lebih indah.

Yuk, ngopi! (intisari)

Mari Kita Kenalan Dengan Kopi Terbaik Sumatera

RUMAHKOPI MATITI, MEDAN - Jika para pecinta kopi berkeliling Pulau Sumatra maka akan banyak berkenalan dengan produk kopi hasil olahan pabrik atau Industri Rumahan yang beredar di tiap daerah kunjungan. Petualangan tersebut akan membawa kita pada sebuah pengalaman unik nan mempesona. “Beda ladang, beda pula belalangnya” itulah analogi yang saya gunakan dalam menyaksikan aneka cita rasa kopi dan budaya masyarakat dari berbagai daerah di Sumatra. Hal ini karena setiap daerah memiliki perbedaan iklim, tanah, cuaca dan kelembaban, sehingga dapat memengaruhi rasa kopi dan bukan hanya itu, faktor geografis dan Iklim tersebut juga akan mempengaruhi cara hidup masyarakat setempat. Berbagai perbedaan dan keunikan akan kita jumpai pada masyarakat saat menyaksikan bagaimana mereka penyikapi atau merespon keberadaan kopi didaerah mereka. Orang-orang dari daerah yang satu dengan daerah lain akan memiliki sikap dan pandangan berbeda tentang “Kopi”.

Berbicara mengenai “Kopi terbaik Sumatera” maka akan membawa kita mengarah pada pembahasan tentang “Kopi terbaik Indonesia”, itu karena memang sebagian besar kopi terbaik di Indonesia diambil dari berbagai daerah di Sumatera selain dari Sulawesi dan daerah lainnya di Indonesia. Karakter atau rasa yang umum dari kopi Sumatera salah satunya adalah aromanya yang earthy atau seperti bau tanah tersiram air hujan dan saat diseruput terasa aroma herbalnya. Berikut ini daerah-daerah penghasil Kopi Terbaik Sumatera : 

Kopi Sidikalang – Sumatera Utara

Kopi sidikalang sudah terkenal akan cita rasanya yang mantap, bahkan bukan hanya didalam negeri tetapi sampai ke luar negeri. Salah satu pesaing kenikmatan kopi Sidikalang adalah kopi brazil, yaitu salah satu kopi terbaik di dunia. Sidikalang adalah ibukota Kabupaten Dairi, terletak di daerah pegunungan nan sejuk. Menurut para ahli kopi, kekhasan Kopi Sidikalang didapat dari kombinasi hawa dingin dan jenis tanah di kawasan Bukit Barisan dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Di Sumatera Utara terdapat tiga daerah penghasil kopi terbaik yaitu Lintongnihuta, Mandailing, dan Sidikalang. 

Kopi Aceh

Kopi Aceh memang telah menjadi andalan Indonesia dalam hal produksi dan keunggulan mutu. Pasalnya Sekitar 40 persen biji kopi Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia merupakan hasil produksi dari daerah Aceh. Produksi Perkebunan Rakyat di Aceh pada tahun 2010 mencapai 50.774 Ton. Produksi kopi di Indonesia setiap tahunnya rata-rata mencapai 600 ribu ton dan lebih dari 80 persen produksi biji kopi tersebut berasal dari seluruh perkebunan rakyat di Indonesia.

Kopi Lampung

Kopi Lampung cukup pantas dikategorikan sebagai salah satu kopi terbaik Indonesia karena keistimewaan aroma dan rasanya yang khas. Jenis kopi yang dibudidayakan oleh kebanyakan petani kopi di daerah lampung adalah jenis Kopi Robusta. Sebagian besar perkebunan kopi Lampung di dataran tinggi Lampung merupakan perkebunan rakyat yang terpusat di daerah Lampung Tengah, Lampung Barat dan daerah Tanggamus.

Ini Dia Kopi Toraja

RUMAH KOPI MATITI, TORAJA - Kopi Toraja merupakan salah satu komoditi Kopi Arabika unggulan asal Toraja. Kopi Toraja memang telah terkenal sejak masa penjajahan Belanda di negeri ini.
 
Tana Toraja adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berada di daerah pegunungan. Toraja berjarak cukup jauh dari Kota Makassar (Ibukota Provinsi) yaitu sekitar 300Km. 
 
Sama halnya dengan kopi di daerah lainya, kopi Toraja juga memiliki karakter yang khas, salah satunya yaitu kandungan asamnya rendah dan memiliki body yang cukup berat.
 
kopi Toraja juga biasa dikenal dengan Kopi Celebes Kalossi. Kata “Celebes Kalossi” tersebut diadopsi dari nama kolonial Belanda untuk salah satu daerah di Sulawesi. 
 
Saat ini pemerintah daerah telah mengembangkan lahan seluas 1200 hektar untuk pengembangan kopi organic di Kecamatan Sesean dan Rindingallo di Toraja Utara dan beberapa tempat lainnya. Namun sangat disayangkan ekspor kopi Toraja pada tahun 2012 menurun bila dibandingkan dengan jumlah ekspor tahun lalu. 
 
Jumlah ekspor kopi Arabika asal Sulawesi Selatan periode Januari hingga Oktober tahun 2012 mencapai 1.150 ton. Sedangkan ekspor Januari hingga Oktober tahun 2011 mencapai 5.759 ton. Dari total ekspor kopi tersebut sebanyak 70 persen merupakan kopi Toraja.

Kopi Excelsa, mau?

RUMAHKOPI MATITI, JAMBI - Kopi Ekselsa (Excelsa Coffee – Coffea dewevrei) ditemukan pertamakali oleh A. Chevalier pada tahun 1905 di Afrika Barat, di sekitar Sungai Char, dekat Danau Chad. Kopi Ekselsa sangat mirip dengan Kopi Liberica (Coffea liberica). Kopi Ekselsa tidak terlalu peka terhadap penyakit HV seperti hanya Kopi Arabika. Kopi Jenis ini sangat cocok dibudidayakan di dataran rendah yang basah karena memang daya tahan hidup kopi ini sangat kuat. Kopi Ekselsa memiliki daun bulat dengan pinggiran agak halus, daun yang masih muda akan berwarna ungu agak merah terbakar sebelum akhirnya beralih ke warna hijau setelah usia tua, meski demikian beberapa daun masih menampakkan aksen ungu. Kopi ini berbatang kekar dan mampu mencapai 9 meter dengan cabang primer yang bisa bertahan lama dan berbunga pada batang yang tua. Kopi jenis Excelsa memang tidak terlalu populer dunia, namun sangat populer di Filipina.

Profil Kopi Ekselsa (Coffea dewevrei)

Tahun Spesies ditemukan 1905
Kromosom (2n) 22
Bunga berubah ke biji kopi matang 12 Bln
Biji kopi matang Tidak Jatuh
Hasil panen (kg biji / ha) 800-1200
Suhu optimal rata-rata tahunan Mampu di atas 30° C
Tumbuh di ketinggian 1-200 m
Hemileia vastatrix Bertahan
Nematodes Bertahan
Koleroga Noxia Bertahan
Tracheomycosis Bertahan
Kandungan Kafein 2%
Bentuk biji kopi Tidak seragam
Karakter rasa Dominan Pahit

Kopi Ekselsa (Excelsa Coffee) Di Indonesia

Kopi Ekselsa (Excelsa) merupakan jenis kopi yang relatif mudah dalam pembudidayaannya, karena tidak rentan terhadap serang penyakit dan kopi ini dapat juga ditanam di atas lahan gambut. Cukup dalam kurun waktu 3,5 tahun, tanaman kopi ini sudah mampu memproduksi beras kopi sekitar 800-1200 kg per Hektar. Di Indonesia kopi jenis Ekselsa (Excelsa coffee) sangat jarang dibudidayakan oleh masyarakat. Namun tidak sama halnya dengan masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat – JAMBI, para petani disana telah membudidayakannya sejak 50 tahun yang lalu. Dalam segi harga memang kopi ini jauh dibawah harga kopi arabika, meskipun demikian adakalanya harga kopi ekselsa lebih mahal dari harga kopi Robusta.

Translate

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Kopi Matiti - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger