Mau Tahu Siapa Pengumpul Kopi Terbesar di Indonesia?

Minggu, 30 Desember 2012


RUMAHKOPI MATITI, SURABAYA - Saimi Saleh (51) bukan hanya senang dikritik oleh petani kopi binaannya, dimarahipun ia akan menerimanya dengan senang hati. Baginya keterbukaan yang disertai kejujuran terutama adalah hal penting dalam menjalankan roda bisnis ekspor kopinya ke mancanegara. Tidak mudah menemui Saimi, kedudukannya sebagai pimpinan puncak Indokom Citra Persada salah satu eksportir kopi terbesar di Indonesia membuatnya harus berburu dengan waktu. Hari ini di Jember, esok sudah harus terbang ke Jakarta, lalu ke Makasar demikian seterusnya. Jadi saat Temu Lapang Kopi di Jember kemarin kebetulan kami berdua bisa berbincang walau waktunya tidak terlalu panjang atas jasa Syafrudin dari PT Sabani Internasional yang mengenalkan saya kepada beliau.

Sebenarnya bila berbicara bisnis kopi, keluarga besar Saimi telah “menggoreng” kopi sejak beberapa generasi. Tapi ia mulai meneguhkan masa depannya dibidang ini sejak tahun 1986 saat Saimi banting setir menjadi “penjual” biji kopi setelah menghentikan kuliahnya karena kepepet masalah biaya dan mengalah untuk adik-adiknya. Sebuah keputusan yang kelak mengubah jalan hidupnya hingga sekarang. Di tahun 1996 ia mulai terjun ke bisnis eksport kopi dan mendirikan perusahaan pertamanya di Propinsi Lampung dan setahun kemudian di Sidoarjo, Jawa Timur. Sekarang Indokom Citra Persada adalah salah satu perusahaan eksportir kopi terbesar di Indonesia yang membawahi sekian anak perusahaan termasuk pengemasan udang beku, juga di Sidoarjo.

Saat mengikuti kegiatan Temu Lapang Kopi di Jember, pria kelahiran Belitang, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan ini menyitir akan pentingnya lembaga ini. “ICCRI (Puslit Koka) mulai dipercaya pasar dan bukan sepenuhnya alat pemerintah lagi. Kelak saya membayangkan, Puslit akan berada di setiap pelabuhan ekspor untuk mendukung industri perkopian kita” ujarnya. Sebagai informasi, Indokom-lah yang menjadi salah satu mitra bisnis para petani Bondowoso yang baru saja merasakan berkah ekspor kopinya ke negara Swiss setelah setengah tahun sebelumnya di gembleng oleh Puslit Koka.
Saimi mungkin pengusaha langka atau setidaknya dianggap aneh oleh banyak pengusaha lain. Sementara orang mengumpulkan uang dari penjualan benih kopi ia justru membagikannya secara cuma-cuma kepada petani di berbagai wilayah Indonesia. Bayangkan saja, sejak tahun 2005 ia sudah menebar 10 juta bibit untuk para petani. Bila satu bibit kopi di pasaran berharaga 2000, Anda tinggal mengalikannya saja.
Mengapa ia ingin berbagi? Saimi meyakini betul bahwa agro industri adalah masa depan bangsa ini, sebuah bisnis yang terbukti tahan terhadap krisis. “Selama manusia membutuhkan makanan, maka selama itu pula bisnis ini akan berkembang dan kopi adalah industri yang padat karya dan bisa mengatasa masalah kemiskinan” yakinnya.

“Coba bayangkan potensi negeri ini, di Indonesia terdapat 6 juta hektar tanah yang berada di atas ketinggian 1000 meter yang cocok untuk kopi arabika. Lalu 9 juta hektar tanah yang belum digarap dan berada di antara ketinggian 400-1000 meter untuk kopi robusta. Jadi total tanah yang siap digarap sebanyak 15 juta hektar untuk kedua jenis kopi ini. Katakanlah kita menanami lahan untuk kopi arabika yang enam juta hektar itu dengan penghasilan rata-rata sekitar 160 juta per hektar. Belum ditambah susu, kayu, rempah, madu, yang bisa kita hasilkan pada perkebunan tersebut. Kira-kira US$ 20 ribu per hektar dikali 6 juta, sekitar 120 milyar dolar. Itu baru dari kopi arabika, belum robusta. Satu atau dua dekade ke depan, bangsa kita tidak akan lagi mengemis ke negara maju” kata Saimi bersemangat.

Prinsip berbagi bagi korporasi besar yang diterapkan melaui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) mungkin masih jauh dengan apa yang telah dilakukan Saimi yang baru saja menghentikan kebiasaan merokoknya. Buatnya, membagikan bibit kopi hanya salah satu caranya dalam merangkul para petani untuk maju bersama perusahaannya. Upaya lain adalah dengan membagikan alat pengupas biji kopi atau pulper kepada para petani tanaman kopi ini. Walaupun jumlahnya masih puluhan, alat ini sangat membantu petani dalam melakukan olah basah atau wet processing demi perbaikan kualitas biji kopi yang mereka hasilkan. Bukan hanya gratis, petani malah boleh menjual hasil panennya kepada pihak lain karena Saimi tidak mewajibkan mereka untuk menjalin kontrak jual beli dengan Indokom. Tapi bila mereka ingin menjualnya kepada Indokom, maka Saimi berkewajiban membelinya.
 
Saimi juga berkeinginan agar Indonesia lebih banyak memproduksi kopi arabika karena harganya yang lebih tinggi. “Kalau bisa 70:30 antara arabika dan robusta” ujarnya. Pembicaraan yang hangat sayangnya harus diakhiri karena Saimi harus segera menghadiri acara lain, tapi saya diundang untuk mengunjungi fasilitas eksport mereka di kawasan Buduran, Sidoarjo di hari Jumat tanggal 17 Juni dan bertemu adik kandungnya, Asnawi Saleh.
 
Di fasilitas pengolah kopi di Sidoarjo kami ditemui Asnawi yang mengajak kami berkeliling melihat gudang dan tempat pengolahan biji kopi mereka di lahan seluar dua hektar. Asnawi, bapak dari dua anak, lulusan Teknik Sipil salah satu Perguruan Tinggi di kota Malang menjelaskan proses dari penerimaan biji kopi mentah yang dikirim melalui kontainer dan truk ke Indokom, pengambilan sampel untuk pemeriksaan kualitas, pengolahan, sortir, hingga siap diekspor ke berbagai negara.
 
Saat ini menurut Asnawi, perusahaannya membina sekitar 8 ribuan petani terutama di kawasan Flores, Bali, Jawa Barat dan sebagian di Jawa Timur seperti daerah Bondowoso. Dari para petani tersebut, Indokom berhasil mengumpulkan sekitar 88 ribu ton per tahun dengan komposisi terbanyak untuk kopi jenis arabika sebesar 60% dan sisanya robusta, tapi jumlahnya bisa berubah tergantung musim panen.

Jangan khawatir dengan jumlah sekian ton yang mereka distribusikan keberbagai negara karena Indokom tetap mendukung pengembangan kopi di tanah air terutama cafe-cafe yang banyak bertebaran. Mereka bisa membeli kopi kualitas ekspor melalui anak perusahaannya PT Sabani Internasional, tentu saja dengan minimum order per karung atau 60 kilogram. Saat ini pasar terbesar mereka tersebar di Amerika, Eropa, Australia, dan Jepang, selain tetap memenuhi permintaan di dalam negeri.
 
Sebagai penggemar kopi robusta, Asnawi paham lansekap politik ekonomi dibalik buruknya kualitas kopi jenis ini. Jangan mengasumsikan bahwa kopi robusta itu punya rasa yang inferior dibandingkan dengan arabika. “Bila diolah dengan baik, kopi robusta bisa menghasilkan rasa yang tak kalah dengan arabika” kata Saimi. Sebuah pendapat yang saya benarkan setelah diajak cupping lalu mencoba kopi robusta unggulan mereka yang diseduh dengan mesin espresso. “Beda bukan rasanya? Saimi bertanya kepada kami. Untuk pertama kalinya saya merasakan espresso dengan 100% robusta, aroma dan flavor yang seakan sulit dibedakan dengan arabika. “Kopi robusta inilah yang dihargai tinggi di pasar komoditas New York” dan saya mengamini perkataan Asnawi.

Kunjungan ini hanya berlangsung beberapa jam saja, tapi kami belajar banyak dari Saimi dan Asnawi, bukan hanya tentang seluk beluk eksport kopi. Tapi yang terpenting adalah sebuah etika bisnis yang tidak sebatas jargon belaka, mereka sudah melakukannya sejak lama khususnya bagi para petani kopi dengan apa yang bisa mereka berikan.
Share this article :

5 komentar:

  1. Assalamualaikum... perkenalkan Saya Imam Wibisono, Petani Kopi dari Lahat, Sumatera Selatan. Kalau ada boleh saya minta kontak person / email pak Saimi Saleh ? saya ingin lebih banyak belajar dari beliau.
    bisa di kirim ke kontak saya di : imam.wibi@gmail.com

    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Salam Pak, Nama Saya Sofian asal Sumatera Utara, saya sangat tertarik dengan bisnis kopi , dan baru beralih dari peminum teh beralih ke kopi pak . ternyata peluang bisnis yg sudah di jalankan oleh Bapak Saimi Saleh dengan kemitraannya dengan petani Binaan ini Luar biasa , saya mengacungkan Jempol dua tangan buat beliau . Di medan banyak pengumpul kopi Gayo , Mandailing dan Lintong , Pak Saimi apa minat utk bermitra Alamat Email saya : sofian191266@yahoo.com utk saling tukar informasi. terim kasih

    BalasHapus
  3. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga Keseharian Bapak selalu berada dalam naungan Allah SWT. Amin. Perkenalkan Nama Saya Nasrullah. asal Makassar- Gowa. kebetulan pak di daerah saya adalah daerah penhasil kopi Arabika. yang kurang lebih 3000 Petani kopi Arabika dan rata2 satu petani dia mengelola 1,5 Ha Kopi arabika. Bila Bapak Saimi berminat membeli Kopi Arabika / bermitra dengan kami. Bapak bisa menhubungi Alamat Email saya : nas_run@ymail.com atau meida.wisata@yahoo.com

    BalasHapus
  4. Anonim10.14

    Saya juga minta kontaknya pak saimi. Alamat email saya: mustadirpaddare@ymail.com

    BalasHapus
  5. Safriadi23.52

    Asalamualaikum wr wb, setelah membaca kisah yg ditulis diatas membuat sya terharu. Smoga dengan kerja sama bapak dapat memajukan petani kopi khusus nya. Sya sgat kasihan kepada petani yg ada di daerah sya termasuk kluarga sya,, karena pasaran kopi yg masuk ke petani sagat melemah sekali berkisar Rp.7000 s/d 3000 (glondong, biji merah) per bambu, tak sebanding dgn pasaran (bubuk kopi). Sya belajar membeli kopi mulai dari glondong kmudian sya olah hingga menjadi kopi hijau, tetapi penjualan kopi hijau juga sgat melemah dan berdampak kepd petani,, sya dari aceh tengah, takengon/ gayo. Ingin meminta kerja sama dgn bpak agar menerima kopi robusa/ arabika dgn harga sepantasnya agar berdampak kpd petani juga mendapatkan harga sebanding,, hp 082260822651 email safriadiwaniranto@gmail.com

    BalasHapus

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, mari kita lupakan segera, tidak seorangpun yang menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, maka kami hormat kepada Anda.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Translate

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Kopi Matiti - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger